Most searched:

Abdul Mutthalib

Abdul Mutthalib Pembela Pertama Rasulullah Saw

Peran Abdul Mutthalib sebagai pengasuh Nabi Muhammad Saw memberikan dampak mendalam pada kepribadiannya dan menjadi titik balik dalam hidupnya. Abdul Mutthalib memiliki kecintaan khusus kepada Nabi dan membuka jalan bagi pertumbuhan dan pendidikannya. Amirul Mukminin As juga menganggap kakeknya, Abdul Mutthalib, sebagai seorang yang beriman dan memainkan peran fundamental dalam mempromosikan nilai-nilai akhlak di sukunya.

 

Pelindung Nabi

Kakek Nabi Muhammad Saw, Abdul Mutthalib bin Hasyim, adalah tokoh terkemuka dan dihormati di kalangan Quraisy di Makah. Beliau bukan hanya kepala suku Quraisy, tetapi juga penjaga Ka’bah. Setelah wafatnya ayah Nabi Muhammad Saw, Abdullah, Abdul Mutthalib mengambil alih pengasuhan Nabi Muhammad Saw dan merawatnya dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Masa hidup Nabi ini diiringi oleh dukungan Abdul Mutthalib hingga Abdul Mutthalib wafat ketika Nabi berusia delapan tahun, pada tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 45 H. (1)

 

Pemberitaan Abdul Mutthalib

Kakek Nabi Muhammad Saw, memiliki kasih sayang khusus terhadap beliau dan perhatian khusus yang diberikan Abdul Mutthalib kepada Nabi Muhammad Saw merupakan tanda kesadarannya akan kedudukan istimewa cucunya.

Ibnu Abbas meriwayatkan: “Sebuah karpet dibentangkan untuk Abdul Mutthalib di bawah naungan Ka’bah, dan demi menghormatinya, tidak seorang pun kecuali dia yang duduk di atasnya. Putra-putra Abdul Mutthalib akan berkumpul di sekitar karpet itu sampai ia datang. Nabi Muhammad Saw, yang saat itu masih kecil, akan datang dan duduk di atas karpet itu. Paman-paman Nabi Muhammad Saw merasa kesal dan ingin membawanya kembali. Tetapi ketika Abdul Mutthalib melihat mereka melakukan hal itu, ia berkata: “Biarkan putraku, demi Allah ia memiliki kedudukan yang besar. Aku melihat hari ketika ia akan menjadi pemimpin kalian. Aku melihat di dahinya tanda kepemimpinan umat.” (2)

 

Keimanan Abdul Mutthalib

Dalam sebuah riwayat, Amirul Mukminin As merujuk pada agama tauhid ayah dan kakeknya dan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beriman.

Asbagh bin Nubatah, salah seorang sahabat Amirul Mukminin As, meriwayatkan dari Amirul Mukminin As bahwa beliau berkata: “Demi Allah, ayahku tidak pernah menyembah berhala, demikian pula kakekku Abdul Mutthalib, Hasyim dan Abdu Manaf.

Ada yang bertanya: Lalu apa yang mereka sembah?

Beliau menjawab: Mereka berpegang teguh pada agama Ibrahim dan shalat menghadap Ka’bah.”(3)

 

Pendiri Tradisi Baik

Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah Saw, diriwayatkan bahwa Abdul Mutthalib menetapkan lima tradisi baik pada masa jahiliyah, yang disetujui dalam Islam dan sebagian di antaranya menjadi bagian dari hukum agama.

Imam as-Sadiq As meriwayatkan dari Rasulullah Saw  bahwa beliau bersabda kepada Amirul Mukminin As:

“…Wahai Ali! Abdul Mutthalib menetapkan lima tradisi pada masa jahiliyah, yang Allah sahkan dan setujui dalam Islam.

Pertama: Beliau melarang pernikahan perempuan dengan anak-anaknya, dan Allah menurunkan ayat 22 Surah An-Nisa mengenai hal ini:

وَلَا تَنْكِحُوْا مَا نَكَحَ اٰبَاۤؤُكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ

Janganlah kamu menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu.”

Kedua: Dari harta karun yang ditemukannya, ia menyedekahkan seperlimanya dan Allah menurunkan ayat 41 surat Anfal mengenai hal ini:

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ

“Ketahuilah, sesungguhnya apa pun yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnusabil”

Ketiga: Ketika dia menggali sumur Zamzam, dia menjadikannya sumber minum bagi para jamaah haji dan Allah berfirman dalam ayat 19 Surat At-Taubah:

اَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاۤجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ

“Apakah kamu jadikan (orang yang melaksanakan tugas) pemberian minuman (kepada) orang yang menunaikan haji dan mengurus Masjidilharam sama dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir”

Keempat: Untuk pembunuhan seseorang, dia menetapkan denda seratus ekor unta sebagai penebus dosa dan Allah menerapkan hal itu juga dalam Islam.

Lima: Suku Quraisy tidak menetapkan jumlah tertentu untuk bertawaf, namun Abdul Mutthalib membatasinya menjadi tujuh putaran dan Allah menerapkannya dalam Islam.

Wahai Ali! Abdul Mutthalib tidak menyembah patung dan berhala, ia tidak memakan hasil kurban yang disembelih di atas tempat persembahan berhala dan ia berkata: Aku teguh atas agama Ibrahim.” (4)

 

Berbangga Dengan Abdul Mutthalib

Dalam suratnya kepada Muawiyah, Amirul Mukminin As menekankan keunggulan leluhurnya dan keberanian serta keteguhan hati anak-anak Abdul Mutthalib.

Dalam suratnya kepada Muawiyah, Amirul Mukminin As berkata: “Adapun apa yang engkau katakan: Kita semua adalah anak-anak Abdu Manaf, itu benar! Tetapi Bani Umayyah tidak akan pernah seperti Hasyim, Bani Harb tidak akan pernah seperti Abdul Mutthalib, Abu Sufyan tidak akan pernah seperti Abu Thalib, dan kaum Muhajirin tidak akan pernah seperti para tawanan yang dibebaskan.”(5)

Kemudian, Amirul Mukminin As menekankan keberanian leluhurnya dan menulis kepada Muawiyah: “Di mana engkau pernah melihat anak-anak Abdul Mutthalib melarikan diri dari musuh dan takut akan pedang?”(6)

 

Tangisan Nabi Saw

Abdul Mutthalib wafat di Makkah pada usia 82 tahun (atau, menurut sebuah riwayat, 110 tahun). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 10 Rabiul Awwal tahun 45 H. Pada saat wafatnya Abdul Mutthalib, Nabi Muhammad Saw baru berusia delapan tahun. Nabi Muhammad Saw sangat terpukul atas kematian kakeknya dan menangis di belakang jenazahnya. Ummu Ayman, yang merupakan pengasuh Nabi Muhammad Saw, meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Saw menangis tersedu-sedu pada hari itu. Tangisan ini menunjukkan betapa dalamnya cinta dan rasa hormat Nabi kepada kakeknya, Abdul Mutthalib. (7)

 

Sumber:

  1. As-Sirah an-Nabawiyyah, Jilid 1, Hal. 169
  2. Bihar al-Anwar, Jilid 15, Hal. 142
  3. Bihar al-Anwar, Jilid 15, Hal. 144
  4. Bihar al-Anwar, Jilid 72, Hal. 46
  5. Nahjul Balaghah, Surat 17
  6. Nahjul Balaghah, Surat 28
  7. At-Thabaqat al-Kubra, Jilid 1, Hal.94

Konten lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *